Suatu Jumat di Portugal

Awal November kemarin, perusahaan tempat saya bekerja mengadakan company gathering di Portugal. Maklum, perusahaan saya adalah perusahaan yang jualan remote, di mana sekitar 120 orang karyawannya tersebar di lebih dari 30 negara. Jadinya perlu lah setahun sekali karyawannya bertemu tatap muka langsung, biar nggak dikira bot, hehe.

Seperti biasa, salah satu permasalahan untuk seorang muslim ketika berada di negara yang muslimnya minoritas adalah mengenai sholat, terlebih lagi sholat Jumat. Kalau sholat lima waktu mungkin bisa dilakukan secara munfarid di kamar hotel, tetapi kalau sholat Jumat kan nggak bisa. Sebelum berangkat ke Portugal saya sempat cek kalau di Estoril, kota tempat acara kantor, tidak ada masjid sama sekali. Dekat hotel adanya malah Casino Estoril, kasino yang menginspirasi Casino Royale πŸ™Š.

20181110_095709

Setelah sampai di sana, saya baru tahu kalau ternyata transportasi antarkota di daerah sana lumayan cepat karena nggak macet. Akhirnya saya cari lagi masjid di GMaps. Ternyata ada sebuah masjid di Cascais (kota lain dekat Estoril), bisa dicapai sekitar 10 menit menggunakan taksi.

Tahun lalu, cuma saya karyawan muslim yang bisa datang. Teman-teman saya dari Pakistan tidak ada yang dapat visa 😒. Alhamdulillah, tahun ini ada satu teman dari Pakistan yang bisa hadir. Dia berhasil mendapatkan visa karena punya riwayat perjalanan ke Spanyol dan Amerika Serikat.

Saya dan teman dari Pakistan tersebut memesan taksi pukul 12:45 (sholat Jumat dilaksanakan jam 13:00) melalui concierge. Concierge memesankan taksi dan memberitahukan ke kami kalau masjidnya tidak berada di pinggir jalan yang muat untuk mobil, jadi kami harus jalan sebentar. Concierge-nya juga bercerita bahwa meskipun dia seorang Katolik, dia pernah punya bos seorang muslim. Dia baru tahu kalau di Cascais ada masjid, karena biasanya bosnya sholat Jumat di Lisbon.

Sepuluh menit perjalanan menggunakan taksi, sampailah kami di titik terdekat dengan masjid di mana kami bisa turun. Dipandu GMaps, kami berjalan menyusuri gang demi gang. Namun begitu sampai di titik yang ditunjukkan GMaps, kami tidak menemukan tanda-tanda masjid. Titik yang ditunjukkan GMaps ternyata adalah sebuah toko yang menjual bahan makanan halal.

Setelah sempat kebingungan mencari di sekitarnya, saya melihat ada seseorang yang masuk ke toko tersebut. Saya pun memberanikan diri bertanya ke beliau, “Excuse me Sir, is this the mosque?“. Dia menjawab “Yes.“. Lega, kami pun mengikuti beliau naik ke lantai 2. Setelah melepas sepatu, kami disambut oleh seseorang yang nampaknya merupakan pengurus masjid tersebut. Dia bercerita kalau tempat tersebut baru difungsikan sebagai masjid selama setahun.

Kebanyakan dari jamaah adalah imigran dari Bangladesh. Khotbah pun disampaikan menggunakan bahasa Bangladesh: Bengali. Ruangan yang sempit membuat jamaah harus berdesak-desakan. Berbeda dengan di Indonesia di mana kotak infak diedarkan ketika khatib sedang berkhotbah, di sana setelah selesai khotbah (dan sebelum sholat Jumat dilaksanakan) ada orang yang berkeliling mengumpulkan infak.

Selesai sholat, ada seseorang yang menyapa saya. Ternyata dia seorang mahasiswa biomedical dari Bangladesh. Dia menebak kalau saya mahasiswa dari Malaysia (tetot πŸ˜‚). Dia juga memperkenalkan seniornya yang berasal dari Nigeria. Si mahasiswa Bangladesh juga sempat ngobrol seru dengan teman saya dari Pakistan soal sejarah negara mereka. Maklum, dua negara itu tadinya satu πŸ˜‚.

Selanjutnya, saya dan teman saya dari Pakistan mencari makan siang. Teman saya mengajak saya ke salah satu tempat makan halal yang dia temukan. Tempatnya menjual masakan khas Iran dan berada di area food court sebuah pusat perbelanjaan. Yang menarik adalah, meskipun tempat makan tersebut memasang logo halal, namun mereka juga menjual minuman beralkohol πŸ˜….

Sambil makan, kami ngobrol mengenai banyak hal, kebanyakan kami membandingkan budaya masing-masing. Saya baru tahu kalau ternyata wanita yang bekerja masih merupakan hal yang jarang di Pakistan. Bekerja di sini maksudnya adalah bekerja di sektor formal (kerja kantoran). Saya juga sempat menjelaskan ke teman saya kalau, meskipun mayoritas warga negara Indonesia adalah muslim, Indonesia bukan negara Islam. Hal ini berbeda dengan Pakistan yang nama resminya “Islamic Republic of Pakistan”.

Setelah makan, teman saya mampir ke swalayan untuk membeli oleh-oleh. Saya hanya menunggu saja karena setelah acara kantor di Portugal selesai, saya akan liburan ke Maroko dan rencananya baru akan mencari oleh-oleh di sana πŸ˜„. Selesai membeli oleh-oleh, kami pun mencari taksi untuk pulang ke hotel. Lama menunggu dan tidak menemukan taksi, teman saya mencoba memesan Uber. Ternyata ada masalah dengan payment system yang digunakan sehingga kami tidak bisa memakai Uber. Kami pun akhirnya naik kereta dari Stasiun Cascais ke Stasiun Estoril, kebetulan hotel kami dekat dengan Stasiun Estoril.

Iklan
Suatu Jumat di Portugal

Titik Nol: Kritik Terhadap Industri Pariwisata

titik_nol_sampul

Judul Buku Titik Nol
Penulis Agustinus Wibowo
Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit 2013
Jumlah Halaman xii, 556

Pada awal tahun 2016 kemarin, Toga Mas mengadakan Ngayogbook, di mana mereka memberikan diskon besar-besaran. Saya dan istri pun tertarik untuk ke sana. Akhirnya kami memborong 4 buku: Titik Nol, Totto-chan, Amba, dan Penjelajah Antariksa 4: Kudeta Putri Gradi.

Titik Nol adalah salah satu buku karya Agustinus Wibowo, seorang pejalan yang pernah berkelana ke negara-negara di Himalaya, Asia Selatan, dan Asia Tengah. Saya pertama kali mengetahui Agustinus melalui bukunya yang berjudul Garis Batas. Dulu saya dipinjami buku tersebut oleh seorang teman kost di Jakarta. Jika Titik Nol bercerita mengenai pengalaman penulisnya di Tibet-Nepal-India-Kashmir-Pakistan-Afghanistan, Garis Batas mengisahkan pengembaraannya di negara-negara Asia Tengah (Tajikistan, Kirgizstan, Kazakhstan, Uzbekistan, Turkeministan).

Saya sebenarnya sempat bertemu Agustinus ketika saya masih tinggal di Jakarta. Waktu itu saya bekerja di Wego dan kebetulan teman-teman redaksi sedang mewawancarai beliau di kantor. Pada kesempatan tersebut, saya hanya bersalaman dengan beliau, tanpa sempat mengobrol.

Saya selalu tertarik dengan kisah perjalanan seseorang di mana dia juga membahas mengenai kondisi sosial di tempat-tempat yang dia kunjungi. Selain Agustinus, saya juga mengagumi Farid Gaban dan Ahmad Yunus yang melakukan Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa, juga Dandhy Laksono dan Ucok Suparta yang melakukan Ekspedisi Indonesia Biru.

Kembali ke buku Titik Nol, Agustinus ternyata adalah sarjana ilmu komputer (sama seperti saya :p). Tak tanggung-tanggung, gelar itu diperolehnya dari Tsinghua University, sebuah perguruan tinggi elit di Negeri Tiongkok. Banyak pejabat Tiongkok yang merupakan alumni universitas ini, termasuk Presidennya sekarang. Agustinus mulai melakukan perjalanan pada saat liburan kuliah. Waktu itu tujuannya adalah Mongolia. Setelah lulus, alih-alih menerima tawaran beasiswa S2 atau mencari pekerjaan, dia memutuskan untuk berkelana. Dia berencana berkelana hingga Afrika Selatan melalui jalur Tibet – Nepal – India – Pakistan – Afghanistan – Iran – Turki – Suriah – Yordania – Mesir.

Salah satu hal yang berkesan bagi saya dari Titik Nol adalah bagaimana Agustinus menulis bahwa industri pariwisata dapat diibaratkan sebagai prostitusi.

“Eksploitasi turisme eksotis itu bagaikan gadis cantik yang menjual diri. Prostitusi!” kata JΓΆrg. “Lihat saja, si gadis dapat uang dari orang-orang yang menikmati kemolekan tubuhnya. Dia menikmati kekayaan itu. Dari uang itu, dia bisa beli baju bagus dan kosmetik, dirinya pun makin cantik.”

“Ya,” kataku, “Tapi bisa saja suatu hari dia sadar, betapa banyak kerusakan yang dialaminya selama ini.”.

Ya, JΓΆrg mengangguk, itu memang satu kemungkinan. Tapi mungkin juga, dia tak bisa berhenti, karena godaan uang itu terlalu kuat dan dia tak bisa bertahan hidup tanpa uang itu. Sampai akhirnya eksploitasi itu membuat dia tak lagi cantik, lalu ditinggalkan dan dilupakan semua orang.

Contohnya Tibet, di mana banyak wisatawan mancanegara yang ingin mengunjungi daerah otonomi di Tiongkok tersebut karena tertarik dengan eksotismenya. Banyak tulisan-tulisan panduan wisata (seperti ini) yang menggambarkan religiusitas biksu dan masyarakat asli di tempat yang dijuluki sebagai “Atap Dunia” tersebut.

Agustinus menemukan kenyataan bahwa di sana religiusitas tersebut telah banyak dikomersialkan. Ada beberapa biksu yang meminta “sedekah sukarela” dan memaksa wisatawan untuk membeli kalung azimat. Tiket masuk kuil-kuil pun cukup mahal, belum lagi untuk memfoto harus terlebih dahulu membeli karcis kamera, tiap ruangan beda karcis.

Demikian pula di Nepal. Eksotisme juga dijanjikan di dusun-dusun sepanjang Sirkuit Annapurna. Dusun-dusun tersebut sekarang dipenuhi oleh penginapan dan warung. Jalur pendakian pun sudah dibuat undak-undakannya. Bahkan jalan aspal sudah mulai dibangun di dalam hutan-hutan di sana.

Di sisi lain, bisa jadi hal tersebut merupakan kemajuan. Namun, sama seperti para biksu di Tibet, penyakit komersil pun menjangkiti orang-orang di Annapurna. Adalah sebuah kebiasaan bagi para turis untuk membagi-bagikan coklat atau bolpen kepada bocah-bocah di sana. Hal itu sebagai “imbalan” atas kesediaan mereka untuk difoto. Bocah-bocah tersebut berseru “Namaste! Namaste!” sambil mengatupkan kedua tangan di atas dahi. Lalu disambung, “One picture! One pen! One dollar!” sambil menyodorkan tangan. Tidak punya coklat atau bolpen untuk dibagikan? Jangan khawatir, Anda bisa membelinya di warung-warung setempat.

Di India, Agustinus sempat merasa lelah dengan segala macam tipu-tipu di sana. Ada tukang rickshaw (bajaj) yang selalu bermodus tak punya kembalian dan mengajak berputar-putar ke toko souvenir. Ada pula tukang rickshaw yang merangkap sebagai calo hotel, berbohong bahwa losmen yang dituju sering kebakaran dan kemudian mengantarkan wisatawan ke hotel yang mahal. Orang asing bisa disuruh membayar dua kali lipat kalau makan di warung. Masih ada juga warnet yang memungut pajak tak jelas.

Tentu saja hal-hal di atas tidak hanya terjadi di India. Di Indonesia pun ada tukang becak yang setengah memaksa, orang-orang yang menarik parkir tidak jelas, pungli masuk tempat ini dan itu, warung makan jebakan betmen. Saya jadi teringat Bali, Pangandaran, Bromo, juga Yogyakarta (terutama soal Gua Pindul). Betapa industri pariwisata telah mengubah (sebagian) orang-orang lokal yang tadinya ramah-tamah menjadi mata duitan. Hal ini dituliskan secara mengena oleh Agustinus:

Turisme dimulai dengan pola seperti ini. Si Dia tinggal di rumahnya yang sepi dan terpencil, namun nyaman dan berbahagia dalam dunianya sendiri. Lalu datang si Aku, menumpang dan menikmati rumah itu, memberi tahu bahwa rumah Dia adalah surga yang paling mulia. Si Dia senang, si Aku riang. Bagi Dia dan Aku ini sama-sama adalah kebahagiaan “menemukan surga”. Inilah perjalanan, penjelajahan, penemuan penuh kejutan, kebahagiaan sempurna, ketika masing-masing tidak memasang harapan apa-apa.

Si Dia terus berdandan sampai norak, memoles rumahnya, mengecat, menyapui, memasang barisan sofa paling nyaman. Si Aku memanggil gerombolan lusinan kawan-kawannya untuk bersama mencicip sensasi surga, serasa terus memuji sambil mengimingi-imingi sesendok madu pada Dia, padahal itu adalah madu murahan, beracun laksana candu. Di sinilah terjadi transaksi “jual-beli surga”.

Si Dia semakin rakus menggak madu, berusaha mati-matian, bahkan rela menjungkirbalikkan seluruh rumah dan segala isinya demi memikat hati para Aku, yang masing-masing punya kemauan beda-beda. Tuntutan para Aku semakin mewah dan mahal, sambil memerintah begini-begitu sekalian juga meninggalkan sampah-sampah menjijikkan berceceran. Inilah periode “penjajahan surga”, disusul “pembinasaan surga”.

Hingga akhirnya rumah mungil itu berantakan, menor awut-awutan, penuh penyakit, tak lagi nyaman dan indah, sama sekali tak ada istimewa. Si Dia yang kecanduan madu, semakin beringas dan memaksa, agresif tak lagi ramah. Mulut Aku dipenuhi sumpah serapah, mempertanyakan apakah ini sungguhan surga. Pesta surga bubar sudah, para tamu pergi tak bakal kembali, sementara tuan rumah terduduk merenungi rumah sepinya yang remuk redam, tak mungkin balik ke wujud sederhana yang dulu lagi. Inilah saat ketika “surga mati, lahirlah neraka”.

Topik soal dampak negatif industri pariwisata ini hanya sebagian kecil saja dari Titik Nol. Seperti yang telah saya sampaikan di awal, saya tertarik pada buku ini karena penulis membahas aspek-aspek sosial pada setiap negara yang dia kunjungi. Hal inilah yang sebenarnya lebih banyak diceritakan oleh Agustinus. Namun, agar tulisan ini tidak semakin panjang, mungkin akan saya bahas secara terpisah.

Titik Nol: Kritik Terhadap Industri Pariwisata