Titik Nol: Kritik Terhadap Industri Pariwisata

titik_nol_sampul

Judul Buku Titik Nol
Penulis Agustinus Wibowo
Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit 2013
Jumlah Halaman xii, 556

Pada awal tahun 2016 kemarin, Toga Mas mengadakan Ngayogbook, di mana mereka memberikan diskon besar-besaran. Saya dan istri pun tertarik untuk ke sana. Akhirnya kami memborong 4 buku: Titik Nol, Totto-chan, Amba, dan Penjelajah Antariksa 4: Kudeta Putri Gradi.

Titik Nol adalah salah satu buku karya Agustinus Wibowo, seorang pejalan yang pernah berkelana ke negara-negara di Himalaya, Asia Selatan, dan Asia Tengah. Saya pertama kali mengetahui Agustinus melalui bukunya yang berjudul Garis Batas. Dulu saya dipinjami buku tersebut oleh seorang teman kost di Jakarta. Jika Titik Nol bercerita mengenai pengalaman penulisnya di Tibet-Nepal-India-Kashmir-Pakistan-Afghanistan, Garis Batas mengisahkan pengembaraannya di negara-negara Asia Tengah (Tajikistan, Kirgizstan, Kazakhstan, Uzbekistan, Turkeministan).

Saya sebenarnya sempat bertemu Agustinus ketika saya masih tinggal di Jakarta. Waktu itu saya bekerja di Wego dan kebetulan teman-teman redaksi sedang mewawancarai beliau di kantor. Pada kesempatan tersebut, saya hanya bersalaman dengan beliau, tanpa sempat mengobrol.

Saya selalu tertarik dengan kisah perjalanan seseorang di mana dia juga membahas mengenai kondisi sosial di tempat-tempat yang dia kunjungi. Selain Agustinus, saya juga mengagumi Farid Gaban dan Ahmad Yunus yang melakukan Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa, juga Dandhy Laksono dan Ucok Suparta yang melakukan Ekspedisi Indonesia Biru.

Kembali ke buku Titik Nol, Agustinus ternyata adalah sarjana ilmu komputer (sama seperti saya :p). Tak tanggung-tanggung, gelar itu diperolehnya dari Tsinghua University, sebuah perguruan tinggi elit di Negeri Tiongkok. Banyak pejabat Tiongkok yang merupakan alumni universitas ini, termasuk Presidennya sekarang. Agustinus mulai melakukan perjalanan pada saat liburan kuliah. Waktu itu tujuannya adalah Mongolia. Setelah lulus, alih-alih menerima tawaran beasiswa S2 atau mencari pekerjaan, dia memutuskan untuk berkelana. Dia berencana berkelana hingga Afrika Selatan melalui jalur Tibet – Nepal – India – Pakistan – Afghanistan – Iran – Turki – Suriah – Yordania – Mesir.

Salah satu hal yang berkesan bagi saya dari Titik Nol adalah bagaimana Agustinus menulis bahwa industri pariwisata dapat diibaratkan sebagai prostitusi.

“Eksploitasi turisme eksotis itu bagaikan gadis cantik yang menjual diri. Prostitusi!” kata Jörg. “Lihat saja, si gadis dapat uang dari orang-orang yang menikmati kemolekan tubuhnya. Dia menikmati kekayaan itu. Dari uang itu, dia bisa beli baju bagus dan kosmetik, dirinya pun makin cantik.”

“Ya,” kataku, “Tapi bisa saja suatu hari dia sadar, betapa banyak kerusakan yang dialaminya selama ini.”.

Ya, Jörg mengangguk, itu memang satu kemungkinan. Tapi mungkin juga, dia tak bisa berhenti, karena godaan uang itu terlalu kuat dan dia tak bisa bertahan hidup tanpa uang itu. Sampai akhirnya eksploitasi itu membuat dia tak lagi cantik, lalu ditinggalkan dan dilupakan semua orang.

Contohnya Tibet, di mana banyak wisatawan mancanegara yang ingin mengunjungi daerah otonomi di Tiongkok tersebut karena tertarik dengan eksotismenya. Banyak tulisan-tulisan panduan wisata (seperti ini) yang menggambarkan religiusitas biksu dan masyarakat asli di tempat yang dijuluki sebagai “Atap Dunia” tersebut.

Agustinus menemukan kenyataan bahwa di sana religiusitas tersebut telah banyak dikomersialkan. Ada beberapa biksu yang meminta “sedekah sukarela” dan memaksa wisatawan untuk membeli kalung azimat. Tiket masuk kuil-kuil pun cukup mahal, belum lagi untuk memfoto harus terlebih dahulu membeli karcis kamera, tiap ruangan beda karcis.

Demikian pula di Nepal. Eksotisme juga dijanjikan di dusun-dusun sepanjang Sirkuit Annapurna. Dusun-dusun tersebut sekarang dipenuhi oleh penginapan dan warung. Jalur pendakian pun sudah dibuat undak-undakannya. Bahkan jalan aspal sudah mulai dibangun di dalam hutan-hutan di sana.

Di sisi lain, bisa jadi hal tersebut merupakan kemajuan. Namun, sama seperti para biksu di Tibet, penyakit komersil pun menjangkiti orang-orang di Annapurna. Adalah sebuah kebiasaan bagi para turis untuk membagi-bagikan coklat atau bolpen kepada bocah-bocah di sana. Hal itu sebagai “imbalan” atas kesediaan mereka untuk difoto. Bocah-bocah tersebut berseru “Namaste! Namaste!” sambil mengatupkan kedua tangan di atas dahi. Lalu disambung, “One picture! One pen! One dollar!” sambil menyodorkan tangan. Tidak punya coklat atau bolpen untuk dibagikan? Jangan khawatir, Anda bisa membelinya di warung-warung setempat.

Di India, Agustinus sempat merasa lelah dengan segala macam tipu-tipu di sana. Ada tukang rickshaw (bajaj) yang selalu bermodus tak punya kembalian dan mengajak berputar-putar ke toko souvenir. Ada pula tukang rickshaw yang merangkap sebagai calo hotel, berbohong bahwa losmen yang dituju sering kebakaran dan kemudian mengantarkan wisatawan ke hotel yang mahal. Orang asing bisa disuruh membayar dua kali lipat kalau makan di warung. Masih ada juga warnet yang memungut pajak tak jelas.

Tentu saja hal-hal di atas tidak hanya terjadi di India. Di Indonesia pun ada tukang becak yang setengah memaksa, orang-orang yang menarik parkir tidak jelas, pungli masuk tempat ini dan itu, warung makan jebakan betmen. Saya jadi teringat Bali, Pangandaran, Bromo, juga Yogyakarta (terutama soal Gua Pindul). Betapa industri pariwisata telah mengubah (sebagian) orang-orang lokal yang tadinya ramah-tamah menjadi mata duitan. Hal ini dituliskan secara mengena oleh Agustinus:

Turisme dimulai dengan pola seperti ini. Si Dia tinggal di rumahnya yang sepi dan terpencil, namun nyaman dan berbahagia dalam dunianya sendiri. Lalu datang si Aku, menumpang dan menikmati rumah itu, memberi tahu bahwa rumah Dia adalah surga yang paling mulia. Si Dia senang, si Aku riang. Bagi Dia dan Aku ini sama-sama adalah kebahagiaan “menemukan surga”. Inilah perjalanan, penjelajahan, penemuan penuh kejutan, kebahagiaan sempurna, ketika masing-masing tidak memasang harapan apa-apa.

Si Dia terus berdandan sampai norak, memoles rumahnya, mengecat, menyapui, memasang barisan sofa paling nyaman. Si Aku memanggil gerombolan lusinan kawan-kawannya untuk bersama mencicip sensasi surga, serasa terus memuji sambil mengimingi-imingi sesendok madu pada Dia, padahal itu adalah madu murahan, beracun laksana candu. Di sinilah terjadi transaksi “jual-beli surga”.

Si Dia semakin rakus menggak madu, berusaha mati-matian, bahkan rela menjungkirbalikkan seluruh rumah dan segala isinya demi memikat hati para Aku, yang masing-masing punya kemauan beda-beda. Tuntutan para Aku semakin mewah dan mahal, sambil memerintah begini-begitu sekalian juga meninggalkan sampah-sampah menjijikkan berceceran. Inilah periode “penjajahan surga”, disusul “pembinasaan surga”.

Hingga akhirnya rumah mungil itu berantakan, menor awut-awutan, penuh penyakit, tak lagi nyaman dan indah, sama sekali tak ada istimewa. Si Dia yang kecanduan madu, semakin beringas dan memaksa, agresif tak lagi ramah. Mulut Aku dipenuhi sumpah serapah, mempertanyakan apakah ini sungguhan surga. Pesta surga bubar sudah, para tamu pergi tak bakal kembali, sementara tuan rumah terduduk merenungi rumah sepinya yang remuk redam, tak mungkin balik ke wujud sederhana yang dulu lagi. Inilah saat ketika “surga mati, lahirlah neraka”.

Topik soal dampak negatif industri pariwisata ini hanya sebagian kecil saja dari Titik Nol. Seperti yang telah saya sampaikan di awal, saya tertarik pada buku ini karena penulis membahas aspek-aspek sosial pada setiap negara yang dia kunjungi. Hal inilah yang sebenarnya lebih banyak diceritakan oleh Agustinus. Namun, agar tulisan ini tidak semakin panjang, mungkin akan saya bahas secara terpisah.

Iklan
Titik Nol: Kritik Terhadap Industri Pariwisata